Senin, 05 November 2007

Kekerasan Dalam OSPEK

 
Oleh: Muhammad Imam Subkhi

Kehadiran mahasiswa baru pada tiap perguruan tinggi setiap tahunnya akan disambut dengan berbagai acara oleh mahasiswa seniornya. Acara seperti OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus), MK (Malam keakraaban) atau acara-acara lainnya adalah acara yang ditujukan untuk menyambut kahadiran mahasiswa baru. OSPEK dan acara penyambutan sejenisnya sepertinya selalu menjadi momok bagi setiap mahasiswa baru ketika memasuki perguruan tinggi. Ini tidak lepas dari penilaian buruk sebagian kalangan terhadap acara penyambutan mahasiswa baru tersebut yang dianggap identik dengan ajang aksi kekerasan mahasiswa senior terhadap mahasiswa baru.
Perdebatan perlu tidaknya diselenggarakan OSPEK selalu mencuat setiap memaasuki ajaran baru perkuliahan. Tentu saja ini tidak lepas dari kejadian-kejadian tahun sebelumnya. Mengingat OSPEK di beberapa perguruan tinggi telah menewaskan mahasiswanya akibat tindak kekerasan senior terhadapmahasiswa baru, tentu ini membuat para panitia penyelenggara penerimaan maba tahun ini harus berhati-hati dalam memperlakukan maba.
Terlepas dari penolakan beberapa pihak, pihak panitia OSPEK dari tiap-tiap perguruan tinggi tentu tetap menginginkan OSPEK diselenggarakan. Akan tetapi, ini memberikan konsekuensi kepada panitia OSPEK untuk merubah image buruk masyarakat terhadap cara-cara penyambutan maba tersebut. Kekhawatiran akan terjadinya tindak kekerasan terhadaap mahasiswa baru masih menghantui para orang tua mahasiswa dan pemerhati pendidikan lainnya. Panitia penyambutan mahasiswa baru harus bisa memberikan jaminan akan tidak adanya tindak kekerasan terhadap maba. Jika OSPEK menjadi ajang balas dendam atau aksi kekerasan senior terhadaap maba adalah tindakan premanisme. Jika ini trus terjadi, kita pasti bertanya dimana letak humanisme dari pendidikan itu sendiri.
Kita harus menumbuhkan kesadaran bahwa peran mahasiswa adalah agent of change. Sebagai agen perubahan, maka mahasiswa dituntut untuk bisa memberikan pemikiran yang berarti untuk kemajuan bangsa. Untuk itu, penyambutan terhadap mahasiswa baru selain mengenalkan kampus juga harus bisa menjadi dasar tumbuhnya ide-ide kritis dan kesadaran mahasiswa baru. Ketika mahasiswa baru disambut dengan aksi premanisme, berarti kita memberikan dasar pemikiran keekerasan. Mahasiswa senior harus bisa memberikan contoh yang baik bagi mahasiswa baru tentang sikap yang humanis.
Mahasiswa sebagai insan intelektual dan salah satu komponen pro-demokrasi, harus bisa dicontohkan mahasiswa senior terhadap mahasiswa baru. Kemampuan melakukan pengamatan, analisa atas berbagai kecenderungan yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat harus ditularkan kepada mahasiswa baru dalam setiap acara penyambutan mahasiswa baru. Ini sangat penting. Penumbuhan idealisme mahasiswa yang selalu peduli atas keadaan kaum tertindas menjadi tujuan utama. Sebagai komponen pro-demokrasi, diharapkan mampu menjadikannya sebagai penggerak atas gerakan moral suatu bangsa.
Seharusnya baik masyarakat maupun panitia OSPEK pada masing-masing perguruan tinggi perlu menata ulang pemikiran mengenai OSPEK itu sendiri. Anggapan masyarakat bahwa OSPEK merupakan ajang aksi kekerasan terhadap mahasiswa baru perlu segera ditepis. Mengingat, dari namanya saja, acara ini bertujuan mengenalkan maba terhadaap lingkungan kampus. Selain itu, acara ini juga bertujuan memberikaan kesadaaraan baru tehadap mahasiswa baru mengenai statusnya sekarang yang telah menjadi mahasiswa. Penumbuhan ide-ide kritis terhadap mahasiswa baru adalah salah satu contohnya.
Aksi kekerasan pada OSPEK sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir sudah jarang dijumpai. Namun dengan tersebarnya tayangan aksi kekerasan di STPDN menimbulkan berbagai kekhawatiran masyarakat pada acara penyambutan maba di masing-masing perguruan tinggi. Kekerasan senior terhadap maba biasanya terjadi karena maba dianggap melanggar peraturan OSPEK yang telah ditetapkan panitia. Namun biasanya bukan kekerasan seperti pemukulan atau lainnya, hukuman itu biasanya berupa push up, lari, atau lainya. Ini bukan tergolong kekerasan. Namun belajar dari pengalaman yang ada, dengan masih dianggap berbahaya dan diprotesnya model hukuman seperti itu, panitia penerimaan mahasiswa baru biasanya mengganti dengan memberikan tugas lainnya misalnya membuat makalah atau tugas-tugas ilmiah lainnya yang lebih inovatif dan ilmiah. Perlu kita sadari lagi bahwa kekerasan sudah bukan jamannya lagi untuk menyambut kehadiran mahasiswa baru. Masyarakatpun tak perlu takut dengan acara-acara seperti ini.
Dalam memberikan tugas-tugas terhadap maba oleh panitia OSPEK selama ini juga cenderung mendidik. Misalnya membuat makalah, meresensi buku, mencatat berita-berita yang berhubungan dengaan tema pada OSPEK dan lainnya. Memang jika kita lihat, ini bisa dikatakaan memberatkan mahasiswa baru. Akan tetapi tugas-tugas tersebut biasanya diberikan secara per kelompok, sehingga kelompok harus membagi sendiri tugas yang harus dilakukan masing-masing anggota kelompok untuk mengerjakan tugas tersebut.
Kepanitiaan penyambutan mahasiswa baru harus dapat membuat acara tersebut menjadi acara yang ilmiah, fun, dan dapat menumbuhkan ide-ide kritis mahasiswa. Misalkan dengan melakukan pemutaran film-film ilmiah, diskusi kelompok, manajemen konflik, problem solving, pengenalan OMEK (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus), bhakti sosial dan lain sebagainya.
Kegiatan seperti diatas saya kira adalah salah satu alternatif yang bisa ditawarkan untuk menghindarkan aksi kekeraasan senior terhadap mahasiswa baru.

Tidak ada komentar: